Materi 5 (Hakikat Berbicara)



Hakikat Berbicara
A.    Pengertian Berbahasa.

            Bebicara merupakan penuangan gagasan dalam bentuk ujaran-ujaran. Sedangkan menurut Suhendar (1992:20) Berbicara adalah proses perubahan wujud pikiran/perasaan menjadi wujud ujaran, ujaran yang dimaksud adalah bunyi-bunyi bahasa yang bermakna. Adapun teori oleh beberapa pakar tentang batasan dalam berbicara antara lain :
1.      Berbicara merupakan ekspresi diri.
Mental dan kepribadian seseorang dapat dilihat dari caranya dia berbicara seperti marah, sedih, bahagia dan lain-lain, yang sejalan dengan pendapat Ton Konstapati yang mengungkapkan bahwa berbicara merupakan ekspresi diri dan sarana mengungkapkan pikiran dan kepribadian.
2.      Berbicara merupakan kemampuan mental motorik.
Bagaimana bunyi bahasa dikaitkan dengan gagasan yang dimaksud pembicara merupakan suatu keterampilan tersendiri. Keterampilan mengaitkan gagasan dengan bunyi bahasa, kata yang tepat merupakan hal yang cukup mendukung keberhasilan berbicara.
3.      Berbicara merupakan proses simbolik
Yaitu, dimana pemaknaan sebuah kata merupakan kesepakatan antara pemilik bahasa. Muljana mengatakan: lambang atau simbol adalah suatu yang digunakan untuk menunjuk suatu berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata , perilaku non verbal dan objek yang maknanya disepakati bersama (2001:84). 
4.      Berbicara terjadi pada konteks ruang dan waktu
Tempat dan waktu terjadinya pembicaraan memiliki efek dalam makna pembicaraan. Dimana jika kita berbicara pada tempat dan waktu yang salah maka akan muncul ketidak wajaran, contohnya : kata-kata yang biasanya digunakan dirumah, kantor dan tempat hiburan tidak pantas dikemukakan atau diucapkan di masjid.
5.      Berbicara adalah keterampilan berbicara yang produktif.
Keterampilan berbahasa yang paling banyak digunakan untuk berkomunikasi, seiring dengan kemampuan berbahasa lainnya, yaitu menyimak. Kedua kemampuan ini tidak dapat dipisahkan karena kedua keterampilan tersebut mempunyai hubungan resiprokal.
Prinsip Umum Berbicara Menurut Tarigan (1983:16) :
a.       Membutuhkan paling sedikit 2 orang (salah satu pihak menjadi komunikator dan yang lainnya komunikan)
b.      Mempergunakan studi lingustik yang dipahami bersama (berkaitan dengan proses simbolik tadi, bahwa antara pembicara dengan pendengar harus punya kesempatan dalam memahami lambang bunyi bahasa yang digunakan sebagai simbol (linguistik))
c.       Merupakan suatu pertukaran peran antara pembicaraan dan pendengar.
d.      Berhubungan dengan masa kini (mendokumentasikan hasil pembicaraan dengan alat perekam adgar dapat didedengar lagi)

B.     Tujuan dan Jenis Berbicara.

1.      Tujuan Berbicara
Tujuan utama berbicara adalah untuk menginformasikan gagasan pembicara kepada pendengar. 4 tujuan berbicara menurut Mulyani (2001:5-30) yaitu:
1.      Tujuan Sosial : Dengan berbicara, orang dapat menunjukkan siapa dirinya dan dapat mengetahui peranannya sebagai makhluk hidup.
2.      Tujuan ekspresif : Mengekspresikan perasaan pembicara kepada orang lain contohnya rasa empati.
3.      Tujuan Ritual : Media untuk menyampaikan pesan kepada tuhan yang dianutnya.
4.      Tujuan Instrumen : Kegiatan berbicara yang berfungsi memperoleh sesuatu.
Sedangkan tujuan berbicara dengan menitik beratkan pada efek pembacaan ada 5 yaitu :
1.      Berbicara dengn tujuan meyakinkan pendengar (kegiatan tersebut dapat dilihat didalam pengadilan)
2.      Berbicara dengan tujuan mempengaruhi pendengar (dapat dilihat dalam komunikasi persuasif yang dimana pembicara dapat menghapuskan gambaran atau pandangan lama dan menggantikan dengan gambaran barudengan ucapan kata atau kalimat)
3.      Berbicara dengan tujuan memperoleh wawasan pendengar (dilakukan dalam pembicaraan informatif, misalnya ceramah, seminar dan lainnya)
4.      Berbicara dengan tujuan memberi gambaran tentang suatu objek (penjelasan)
5.      Berbicara dengn tujuan memberikan pesan tersirat (penyampaian pesan kepada pendengar)

2.      Jenis Berbicara.

Terbagi atas 3 yaitu :
a.       Berdasarkan Situasi.
1.      Berbicara formal : Berbicara yang terikat dengan aturan kebahasaan dan non kebahasaan.
2.      Berbicara non formal : Tidak begitu terikat dengan kebahasaan, yang sering diguakan sehari-hari.

b.      Berdasarkan Keterlibatan Pelakunya.
1.      Berbicara Individual : (pidato)
2.      Berbicara Kelompok : (diskusi,debat)

c.       Berdasarkan Alur Pembicaraan.
1.      Monologis : Dilakukan searah, tidak memperlukan respon (pidato,membaca puisi)
2.      Dialogis : Dilakukan dalam dua arah, memperlukan respon pendengar.

C.    Peranana Bericara Dalam Keseharian.

Ada 2 jenis penggolongandalam berbiara yaitu formal dan non formal, yang dikehidupan sehari-hari lebih sering menggunakan bahasa non formal yang dalam penyampaiannya hanya diutamakan dalam hal komutatif yaitu pendengar dapat memahami pesan dengan jelas seperti yang dimaksud pembicara.

D.    Kaitan bericara dengn keterampilan lainnya.

1.      Hubungan berbicara dengn menyimak.
Seseorang yang belajar berbicara harus dimulai dengan menyimak terlebih dahulu yang akan memunculkan pergantian peran antara penyimak dan pembicara.
2.      Hubungan berbicara dengan membaca.
Dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan bentuk produksi dari proses membaca, dan membaca dapat menjadi sarana efektif dalam memandu kegiatan membaca.
3.      Hubungan berbicara dengan menulis.
Dapat digunakan sebagai sarana pendukung kemampuan berbicara, sebagai pedoman atau arahan dalam kegiatan berbicara contohnya: teks dialog, wawacara yang didalamnya terdapat kesinambungan dan respon didalamnya.


Berbicara Sebagai Proses

A.    Pengertian berbicara sebagai proses.

Kegiatan berbicara yang dimulai dengan proses simbolisasi peran dalam diri pembicara untuk disampaikan kepada pendengar melalui sebuah media. Adapun tahap-tahapan dalam berbicara antara lain :

1.      Persiapan.
a.       Penentuan topik : hal yang pertama kali dilakukan sebelum kegiatan berbicara.
b.      Pennetuan tujuan : tujuan yang dapat dicapai melalui kegiatan berbicara.
c.       Pengumpulan referensi : sumber pendukung yang dapat dijsdikan contoh.
d.      Penyusunan kerangka : kegiatan untuk membimbing pembicaraan.
e.       Berlatih : tahap terakhir dalam persiapan untuk lebih mengasah diri.

2.      Pelaksanaan kegiatan berbicara.
Diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan pembahasan pokok yang dimana meliputi didalamnya ada ungkapan pemikat, inti pembahasan, dan ungkapan pemikatuntuk mengakhiri pembicaraan dan yang terakhir ada penutup yang merupakan akhir dari seluruh kegiatan berbicara.

3.      Evaluasi.
Kegiatan untuk mendapatkan masukan dari kegiatan berbicara yang telah dilakukan seorang pembicara. Dengan begitu anda atau kita dapat memberikan penilaian terhadap kualitas dalam berbicara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi 9 (Strategi Pembelajaran Membaca)

Matrei 7 (REFLEKSI Praktek Keterampilan Berbicara)

Materi 3 (Strategi Berbahasa Menyimak)